Bisnis Toserba di Bantul, Bagaimana Peluang dan Tantangannya?

Ternyata, membuka toserba bisa menjadi salah satu pilihan bisnis yang menarik loh, apalagi di wilayah dengan aktivitas masyarakat yang cukup padat, misalnya saja di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Kebutuhan terhadap makanan, minuman, perlengkapan rumah tangga, hingga berbagai kebutuhan harian membuat keberadaan toko semacam ini relatif mudah diterima masyarakat.

Meskipun demikian, bisnis toserba di Bantul memiliki karakter yang sedikit berbeda. Selain harus berhadapan dengan toko kelontong, pasar rakyat, dan minimarket yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat, calon pelaku usaha juga perlu memahami kebijakan pemerintah daerah mengenai toko swalayan dan minimarket berjejaring.

Pemkab Bantul memang memiliki kebijakan pengendalian toko modern untuk menjaga keseimbangan antara keberadaan toko modern dengan pasar rakyat serta pelaku usaha kecil. Dalam Perda Kabupaten Bantul Nomor 21 Tahun 2018 misalnya, terdapat pengaturan mengenai jarak pendirian toko swalayan berjejaring atau waralaba dari pasar rakyat.

Lalu, seperti apa sih sebenarnya peluang bisnis toserba di Bantul dan apa saja tantangan yang perlu dipersiapkan? Lihat informasinya di sini!

Peluang Bisnis Toserba di Bantul

Bantul memiliki karakter wilayah yang cukup beragam. Ada kawasan yang berkembang pesat karena aktivitas perkotaan, wilayah permukiman yang semakin ramai, hingga kawasan yang masih memiliki karakter pedesaan. Nah, kondisi tersebutlah yang menciptakan kebutuhan terhadap toko yang menyediakan berbagai barang dalam satu tempat.

Oleh sebab itu, berikut beberapa peluang yang dapat Anda pertimbangkan sebelum membuka bisnis toserba di area Bantul.

1. Kebutuhan Produk Harian Selalu Ada

Gambaran kebutuhan sehari hari, Sumber: pexels.com
Gambaran kebutuhan sehari hari, Sumber: pexels.com

Salah satu alasan bisnis toserba masih menarik adalah produk yang dijual berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Masyarakat membutuhkan beras, minyak goreng, gula, mie instant, minuman, makanan ringan, perlengkapan mandi, deterjen, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Artinya, pemilik tidak harus bergantung pada produk yang sedang tren bukan? Selama pemilik usaha mampu memilih barang yang memang dibutuhkan masyarakat sekitar, peluang terjadinya pembelian berulang tetap terbuka.

Untuk bisnis toserba di Bantul, kondisi ini bisa dimanfaatkan dengan melakukan riset sederhana terlebih dahulu. Misalnya saja dengan cara memperhatikan barang apa yang paling sering dicari warga sekitar, siapa target konsumennya, serta toko apa saja yang sudah menjadi pilihan masyarakat.

2. Bisa Menyesuaikan Skala Bisnis

Penting untuk Anda pahami bahwa toserba tidak harus langsung hadir dalam bentuk toko besar dengan ribuan jenis produk. Bisnis dapat dimulai dari skala yang disesuaikan dengan kemampuan dan modal usaha yang tersedia.

Pemilik bisa memulai dari toko dengan produk kebutuhan pokok, kemudian menambah kategori barang secara bertahap. Setelah mengetahui produk yang paling laris, stok dapat diperbanyak pada kategori tersebut.

Cara ini relatif lebih aman dibandingkan membeli terlalu banyak barang sejak awal tanpa mengetahui tingkat permintaannya. Pasalnya, stok yang terlalu besar justru dapat membuat modal tertahan di dalam barang dagangan.

3. Lokasi Permukiman Bisa Menjadi Potensi

Pilihan lokasi toserba, Sumber: pexels.com
Pilihan lokasi toserba, Sumber: pexels.com

Untuk pemilihan lokasi yang tepat bisa menjadi salah satu faktor penting dalam bisnis toserba. Toko yang berada dekat permukiman, kos-kosan, kawasan pendidikan, atau area dengan aktivitas masyarakat yang tinggi berpotensi mendapatkan pelanggan rutin.

Untuk wilayah Bantul, calon pengusaha tidak hanya perlu melihat lokasi yang ramai kendaraan. Akses masyarakat sekitar juga perlu diperhatikan. Toserba yang dekat dengan permukiman bisa memiliki keunggulan karena pelanggan tidak perlu pergi jauh hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, keberadaan tempat parkir, akses kendaraan, visibilitas toko, serta kondisi lingkungan sekitar juga sebaiknya diperhitungkan sebelum menyewa atau membeli tempat usaha.

4. Ada Ruang untuk Menjadi Toserba Lokal

Salah satu hal yang menarik dari bisnis toserba di Bantul adalah adanya ruang bagi toko lokal untuk menawarkan pengalaman belanja yang berbeda.

Kebijakan Pemkab Bantul selama ini menunjukkan adanya perhatian terhadap keseimbangan antara toko modern, pasar rakyat, dan pelaku usaha lokal. Perda Nomor 21 Tahun 2018 mengatur jarak toko swalayan berjejaring atau waralaba dari pasar rakyat paling dekat dalam radius 3.000 meter, sementara toko swalayan yang tidak berjejaring atau dimiliki koperasi diatur dalam radius 500 meter.

Perlu dicatat, aturan tersebut bukan berarti semua toko seperti Alfamart atau jaringan sejenis otomatis dilarang berdiri di Bantul. Yang diatur adalah lokasi, jarak, serta persyaratan pendiriannya. Bahkan, terdapat ketentuan khusus mengenai pembatasan minimarket berjejaring pada ruas tertentu di kawasan Ring Road Selatan.

Situasi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pengusaha lokal untuk membangun toserba yang memahami kebutuhan masyarakat setempat.

5. Produk Lokal Bisa Menjadi Pembeda

Gambaran produk lokal, Sumber: pexels.com
Gambaran produk lokal, Sumber: pexels.com

Meskipun sudah banyak toko-toko ritel atau bisnis franchise di Jogja yang berdiri, namun toserba lokal juga dapat mengambil peluang dengan menyediakan produk dari pelaku usaha di sekitar Bantul loh. Misalnya saja seperti makanan ringan produksi UMKM, kerajinan, produk pertanian, oleh-oleh, atau kebutuhan khas daerah.

Strategi tersebut membuat toko tidak hanya menjadi tempat membeli produk pabrikan saja, namun juga menjadi etalase bagi produk lokal. Dalam jangka panjang, karakter seperti ini dapat membantu membangun identitas toko dan membuatnya lebih mudah diingat pelanggan.

Tantangan Bisnis Toserba di Bantul

Perlu Anda garis bawahi, meski peluangnya cukup terbuka, bukan berarti bisnis toserba dapat berjalan tanpa tantangan ya. Justru karena produk yang dijual merupakan kebutuhan umum, maka persaingannya bisa cukup ketat.

1. Persaingan dengan Toko Kelontong dan Minimarket

Toserba akan berhadapan dengan berbagai jenis kompetitor. Mulai dari warung kecil, toko kelontong, pasar rakyat, minimarket lokal, hingga jaringan toko modern lainnya.

Keberadaan jaringan minimarket memang mendapatkan pengaturan khusus di Bantul. Pemkab Bantul sejak lama menerapkan kebijakan pengendalian toko modern sebagai bentuk perhatian terhadap pedagang tradisional dan pelaku usaha kecil.

Bagi pengusaha lokal, kondisi ini dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Jangan hanya mengandalkan harga murah. Pelayanan ramah, lokasi strategis, kelengkapan produk, kebersihan, dan kenyamanan berbelanja juga dapat menjadi pembeda.

2. Harus Cermat Mengelola Stok

Pengelolaan stok di toserba, Sumber: pexels.com
Pengelolaan stok di toserba, Sumber: pexels.com

Semakin banyak produk yang dijual, maka semakin kompleks pula pengelolaan persediaannya. Beberapa barang memiliki masa simpan panjang, sementara produk makanan dan minuman tertentu mempunyai tanggal kadaluarsa yang harus diperhatikan.

Pemilik perlu mengetahui produk mana yang cepat terjual dan mana yang perputarannya lambat. Sistem pencatatan stok juga sebaiknya mulai digunakan sejak awal agar pemilik mengetahui kondisi barang dan keuangan secara lebih jelas.

Penataan toko pun berpengaruh. Penggunaan rak supermarket dapat membantu membuat produk lebih terorganisasi sehingga pelanggan lebih mudah mencari barang yang dibutuhkan. Penempatan produk yang tepat juga dapat membuat area toko terasa lebih rapi dan nyaman.

3. Regulasi Perlu Dipahami Sebelum Membuka Toko

Nah, hal ini menjadi bagian penting yang tidak boleh dilewatkan calon pengusaha. Toko swalayan di Bantul memiliki ketentuan mengenai lokasi, jarak dengan pasar rakyat, perizinan, hingga waktu operasional. Perda Kabupaten Bantul Nomor 21 Tahun 2018 menetapkan bahwa toko swalayan perlu memenuhi ketentuan perizinan dan lokasi yang berlaku.

Karena aturan dapat mengalami perubahan, calon pengusaha sebaiknya mengecek ketentuan terbaru melalui pemerintah daerah atau kanal JDIH Kabupaten Bantul sebelum menentukan lokasi dan mengurus perizinan.

Hal ini penting terutama bagi pengusaha yang ingin mengembangkan toserba dengan konsep lebih besar. Jangan sampai tempat sudah disewa atau direnovasi, tetapi kemudian menghadapi kendala terkait ketentuan lokasi maupun izin.

Bagaimana Strategi agar Toserba di Bantul Bisa Bersaing?

Strategi toserba di bantul, Sumber: women.okezone.com
Strategi toserba di bantul, Sumber: women.okezone.com

Salah satu kuncinya adalah tidak mencoba meniru toko jaringan secara mentah. Toserba lokal justru dapat mengandalkan kedekatan dengan pelanggan.

Misalnya saja, menyediakan kebutuhan yang memang banyak dicari warga sekitar, memberikan pelayanan yang cepat, menerima pesanan melalui WhatsApp, menyediakan pembayaran digital, atau menawarkan layanan antar untuk pelanggan di sekitar toko.

Pemilik juga dapat memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan promo, produk baru, dan informasi toko. Strategi sederhana tersebut bisa membantu toko tetap terhubung dengan pelanggan tanpa harus mengeluarkan biaya promosi terlalu besar.

Selain itu, lakukan evaluasi secara berkala. Catat produk yang paling laku, waktu kunjungan pelanggan paling ramai, serta produk yang jarang dibeli. Dari data tersebut, pemilik bisa menentukan barang apa yang perlu ditambah atau dikurangi.

Jadi, Apakah Bisnis Toserba di Bantul Menjanjikan?

Bisnis toserba di Bantul masih memiliki peluang yang cukup menarik karena kebutuhan masyarakat terhadap barang sehari-hari akan terus ada. Terlebih, karakter kebijakan daerah yang mengatur keberadaan toko swalayan berjejaring dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan toko yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Meskipun begitu, peluang tersebut tetap harus diikuti perencanaan yang matang ya, jadi tidak boleh asal-asalan. Pemilihan lokasi, perhitungan modal, pengelolaan stok, pemilihan supplier, pelayanan, hingga pemahaman terhadap regulasi daerah harus dipersiapkan sejak awal.

Jadi, bukan sekadar membuka toko dan memenuhi rak dengan berbagai produk saja. Bisnis toserba yang ingin bertahan di Bantul perlu memahami siapa konsumennya, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana memberikan alasan agar mereka mau kembali berbelanja.

Dengan pendekatan tersebut, bisnis toserba lokal bukan hanya berpotensi menjadi sumber penghasilan saja, namun juga dapat ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Bantul.

Leave a Comment