Belajar dari Bolosego, Tantangan Membangun Bisnis Skala UMKM di Jogja

Membangun bisnis UMKM tidak hanya membutuhkan produk yang bagus, modal yang cukup, dan kemampuan pemasaran. Di lapangan, pelaku usaha juga harus berhadapan dengan persoalan perizinan, biaya operasional, lingkungan usaha, hingga berbagai kepentingan yang ada di sekitar lokasi bisnis.

Hal tersebut kembali menjadi perhatian setelah kisah Bolosego, usaha kuliner asal Yogyakarta, viral di media sosial pada September 2026. 

Pemilik Bolosego, Dyah Laily Fardisa, mengungkap pengalaman ketika membawa food truck miliknya untuk berjualan di kawasan Alun-Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta. Padahal, menurut keterangannya, Bolosego telah memperoleh izin untuk berjualan di kawasan tersebut. 

Namun, sebelum dan ketika mulai beroperasi, muncul sejumlah permintaan biaya atau dugaan pungutan liar yang menurut Dyah tidak termasuk dalam proses perizinan resmi. Salah satunya adalah permintaan biaya parkir yang pada awalnya disebut mencapai Rp2,5 juta per hari. Setelah negosiasi, nominal tersebut menjadi Rp1 juta per hari.

Selain persoalan parkir, Dyah juga mengungkap adanya permintaan menyediakan makanan untuk sejumlah orang. Bolosego juga harus mengeluarkan biaya tambahan karena tidak dapat menggunakan listrik di lokasi dan kemudian menggunakan genset.

Foodtruck Bolosego. Sumber Catawarta.com

Jika dihitung, biaya tambahan yang harus disiapkan sejak awal mencapai jutaan rupiah. Kondisi tersebut membuat rencana berjualan selama lima hari, 16–20 September 2026, akhirnya dihentikan setelah baru berjalan satu hari. (Harianjogja.com)

Kasus ini kemudian berkembang menjadi perhatian publik karena menunjukkan salah satu persoalan yang mungkin dihadapi pelaku UMKM ketika mencoba memperluas usaha di lokasi baru.

Sejarah Bolosego

Bolosego bukanlah bisnis yang muncul secara tiba-tiba. Usaha kuliner ini mulai dirintis pada 2020, ketika pandemi COVID-19 membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan mengalami tekanan ekonomi.

Dyah Laily Fardisa, pemilik Bolosego, sebelumnya memiliki pengalaman di industri kreatif. Setelah meninggalkan pekerjaannya, ia kemudian membangun bisnis kuliner tersebut. 

Awal mula Bolosego berasal dari dapur rumahan dengan tim kecil. Salah satu latar belakang lahirnya bisnis ini juga berkaitan dengan keinginan untuk menghidupkan kembali usaha kuliner yang terdampak pandemi. Dari skala kecil tersebut, Bolosego kemudian berkembang dan dikenal melalui menu-menu bercita rasa pedas yang menjadi ciri khasnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan UMKM sering kali tidak langsung berbentuk bisnis dengan banyak cabang dan sistem yang kompleks. Banyak usaha justru dimulai dari keterbatasan: dapur rumah, tenaga kerja sedikit, modal terbatas, dan mengandalkan kemampuan pemilik untuk menjual produk.

Seiring pertumbuhan bisnis, Bolosego kemudian mengembangkan konsep bisnis food truck. Bagi bisnis kuliner, food truck dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan produk kepada konsumen sekaligus menguji lokasi pasar baru. Namun, ekspansi ke lokasi baru juga membawa tantangan yang berbeda dibandingkan menjalankan restoran atau outlet tetap.

Kejadian Viral Bolosego

Rencana Bolosego membuka food truck di Alkid menjadi titik yang kemudian membawa nama usaha tersebut menjadi perbincangan luas. Menurut keterangan Dyah, Bolosego telah mendapatkan izin dari Keraton Yogyakarta untuk berjualan di kawasan Alkid. 

Keraton kemudian juga memberikan pernyataan bahwa izin untuk kegiatan food truck tersebut memang diberikan sesuai ketentuan yang berlaku. Keraton menegaskan bahwa pembayaran parkir maupun permintaan lain yang diceritakan melalui media sosial bukan bagian dari proses perizinan atau pungutan yang ditetapkan pihak Keraton.

Persoalan muncul ketika pihak Bolosego mengaku dimintai biaya oleh pihak yang disebut terkait dengan kelompok parkir. Permintaan awal disebut sebesar Rp12,5 juta untuk lima hari, atau Rp2,5 juta per hari. Setelah negosiasi, jumlah tersebut menjadi Rp5 juta untuk lima hari atau Rp1 juta per hari.

Di luar itu, Dyah juga menceritakan adanya permintaan konsumsi untuk sekitar 10 orang dengan nilai sekitar Rp1 juta selama lima hari. Ada pula persoalan penggunaan listrik sehingga Bolosego harus mengoperasikan genset sendiri dengan biaya tambahan sekitar Rp150 ribu per hari.

Dyah kemudian menyampaikan pengalamannya melalui media sosial. Unggahan tersebut menjadi viral dan mendapatkan perhatian luas dari masyarakat. Persoalan juga berkembang ketika muncul keterangan mengenai permintaan konsumsi untuk anggota kepolisian. 

Dalam klasifikasinya, Dyah membenarkan adanya percakapan mengenai permintaan tersebut, tetapi menegaskan bahwa makanan yang diminta tersebut pada akhirnya tidak diberikan. Setelah kasus menjadi viral, pemeriksaan oleh pihak kepolisian dilakukan secara mendalam. 

Pada 21 September 2026, Polresta Yogyakarta menyatakan pemeriksaan dilakukan terkait dua hal, yaitu persoalan pungutan parkir dan dugaan permintaan konsumsi yang melibatkan anggota kepolisian. Pada 22 September, Propam Polresta Yogyakarta menyampaikan bahwa satu anggota polisi telah ditetapkan sebagai Terduga Pelanggar dalam penanganan internal.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa viral di media sosial dapat membuat persoalan yang awalnya dialami satu pelaku UMKM berubah menjadi isu publik dalam waktu sangat singkat.

Bahkan, persoalan tidak berhenti pada lokasi usaha. Pada 20 September, Dyah mengungkap bahwa sejumlah outlet Bolosego mendapat gelombang ulasan bintang satu di Google dalam waktu yang berdekatan. 

Pihak Bolosego menduga hal tersebut merupakan review bombing. Namun, hingga pemberitaan mengenai hal tersebut muncul, belum ada bukti yang mengkonfirmasi siapa pihak di balik gelombang ulasan tersebut.

Mbak Dyah, owner Bolosego. Sumber Tribunnewsmaker

Di sisi lain, sejumlah warganet memberikan dukungan dengan memberikan ulasan positif dan bintang lima kepada outlet Bolosego. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana reputasi bisnis UMKM pada era digital dapat dipengaruhi oleh percakapan di media sosial, baik secara positif maupun negatif.

Tantangan UMKM di Jogja

Kasus Bolosego memberikan gambaran bahwa tantangan membangun UMKM tidak berhenti pada bagaimana mendapatkan pelanggan, tetapi pada beberapa hal berikut:

1. Memahami Ekosistem Lokasi Usaha

Ketika sebuah bisnis ingin membuka outlet, booth, atau food truck di tempat baru, pemilik harus memahami siapa yang berwenang memberikan izin, siapa yang mengelola lokasi, bagaimana aturan parkir, penggunaan fasilitas, hingga biaya apa saja yang resmi.

Izin formal menjadi sangat penting. Namun, kasus Bolosego juga memperlihatkan pentingnya memastikan bahwa seluruh biaya yang muncul di lapangan memiliki dasar dan pihak yang jelas.

2. Menghitung Biaya Ekspansi Secara Realistis

Bagi UMKM, tambahan biaya Rp1 juta per hari bukan angka kecil. Jika sebuah food truck berjualan selama 30 hari, misalnya, biaya tambahan tersebut secara teoritis bisa mencapai Rp30 juta. Padahal bisnis masih harus membayar bahan baku, karyawan, transportasi, listrik, bahan bakar, promosi, sewa, dan biaya lainnya. 

Artinya, sebelum membuka lokasi baru, pengusaha perlu menghitung bukan hanya potensi omset, tetapi juga seluruh biaya yang mungkin muncul.

3. Memiliki Dokumentasi dan Komunikasi yang Rapi

Setiap izin, kesepakatan harga, pembayaran, komunikasi dengan pengelola lokasi, dan bentuk pungutan sebaiknya disimpan. Bukti tertulis dapat membantu ketika terjadi perbedaan pemahaman antara pelaku usaha dengan pihak lain.

4. Mengelola Reputasi Digital

Di era Google Review dan media sosial, persoalan offline dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan online. Satu kejadian dapat mempengaruhi persepsi calon pelanggan terhadap sebuah bisnis.

Karena itu, UMKM perlu membangun aset digital sejak awal: website, Google Business Profile, media sosial, database pelanggan, serta reputasi yang dibangun melalui pelayanan nyata.

Gerai Bolosego. Sumber IDN Times

5. Memahami Kapan Harus Bertahan dan Kapan Harus Menghentikan Keputusan Bisnis

Keputusan Bolosego menghentikan operasional food truck di Alkid setelah satu hari menunjukkan bahwa ekspansi tidak selalu harus dipaksakan hanya karena lokasi tersebut dianggap strategis.

Bagi UMKM, keberanian mengambil peluang memang penting. Tetapi sama pentingnya adalah kemampuan menghitung risiko, memahami aturan, mendokumentasikan persoalan, dan mengambil keputusan ketika biaya atau risiko sudah tidak sebanding dengan manfaat.

Kisah Bolosego pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah food truck yang gagal beroperasi selama lima hari. Ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan UMKM dari dapur kecil menuju bisnis yang lebih besar membutuhkan lebih dari sekadar produk yang laku.

Pengusaha harus siap menghadapi ekosistem bisnis yang kompleks, termasuk perizinan, lingkungan sekitar, biaya tak terduga, reputasi digital, dan berbagai kepentingan di lapangan.

Bagi pelaku UMKM di Jogja maupun daerah lain, pelajaran pentingnya adalah sebelum melakukan ekspansi, kenali lokasi, pastikan legalitas, hitung semua biaya, dokumentasikan setiap transaksi, dan siapkan strategi menghadapi risiko.

Karena dalam membangun bisnis, tantangan terbesar terkadang bukan bagaimana mendapatkan pelanggan, tetapi bagaimana memastikan bisnis dapat tumbuh dalam ekosistem yang sehat, aman, dan berkelanjutan.

Leave a Comment